BINJAI — Sultan Negeri Langkat, Tuanku Ariefanda Aziz Abdul Djalil Rahmadsyah, bersilaturahmi dengan Wali Kota Binjai Amir Hamzah, Senin (24/8/2026).
Pertemuan tersebut menjadi momentum mempererat silaturahmi sekaligus membangun komunikasi dan sinergi dalam menjaga sejarah, adat, budaya serta identitas Melayu di Kota Binjai, yang sudah lama dirindukan sejak tahun 2019.
Pertemuan yang penuh keakraban itu, sejumlah hal dibahas, mulai dari sejarah Binjai dan keterkaitannya dengan Kesultanan Negeri Langkat, penguatan kebudayaan Melayu, rencana kegiatan pemajuan kebudayaan Melayu di Kota Binjai, hingga pembahasan mengenai aset dan peninggalan Kesultanan, termasuk Masjid Raya Binjai.
Turut hadir Ketua Umum Syarikat Masyarakat Adat Melayu (SMAM) Tengku Arief Fadillah, Ketua Umum Himpunan Advokat Melayu Bersatu (HAMBE) Arifani,SH, MH, Tengku Syarifudin, mantan Kepala Kesbangpol Kota Binjai juga sahabat Wali Kota Binjai, Tengku Zulkifli Hamzah selaku Ketua Ikatan Zuriat Kesultanan dan Masyarakat Adat Melayu, pengurus Forum Silaturahmi Badan Kemakmuran Masjid Indonesia (Fosil BKMI), serta jajaran Kerapatan Adat Kesultanan Negeri Langkat lainnya.
Sultan: Binjai Memiliki Jejak Sejarah Kesultanan Langkat
Dalam pertemuan tersebut, Sultan Negeri Langkat menyampaikan pandangannya mengenai sejarah Binjai yang memiliki keterkaitan dengan Kesultanan Negeri Langkat, dimana kota Binjai dulunya adalah bagian dari wilayah Kesultanan Langkat, sehingga sejarah tersebut merupakan bagian penting dari identitas masyarakat Binjai sebagai kota Melayu.
Nilai history kesejarahan tersebut maka sinergitas antara Kerapatan Adat Kesultanan Negeri Langkat dengan Pemerintah Kota Binjai adalah sebuah keniscayaan yang perlu dikedepankan . Untuk hal itu Kesultanan Langkat siap berkolaborasi dengan mengusulkan beberapa program Pemajuan Kebudayaan Melayu, menyusun berbagai kerja sama dalam memajukan kebudayaan Melayu.
“Kita, Kerapatan Adat Kesultanan Negeri Langkat siap berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Binjai untuk bagaimana ke depannya kita membangun tahapan-tahapan kerja sama dalam memajukan Melayu di Kota Binjai,” ujar Tuanku Ariefanda Aziz Abdul Djalil Rahmadsyah.
Menurutnya, kolaborasi tersebut penting agar sejarah dan kebudayaan Melayu tidak hanya menjadi catatan masa lalu, tetapi dapat terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Wali Kota Binjai Amir Hamzah menyambut baik semangat kolaborasi yang disampaikan Sultan Negeri Langkat.
Amir Hamzah mengungkapkan bahwa dirinya memiliki kebanggaan terhadap identitas Melayu karena lahir dan besar di Kota Binjai.
Ia juga menceritakan latar belakang keluarganya yang memiliki keterikatan dengan wilayah Kerajaan Perak.
Ia menuturkan bahwa, ayahnya lahir di wilayah Kerajaan Perak, tepatnya di Bukit Chandan. Ketika rombongan Istana Maimun melakukan kunjungan ke Kerajaan Perak dan kemudian kembali ke Deli, ayahnya turut mendampingi rombongan tersebut. Setelah tiba di Deli, ayahnya kemudian menetap di lingkungan Istana Maimun dan menjadi polisi kerajaan.
“Saya ini orang Melayu, lahir dan besar di Binjai. Saya bangga menjadi kepala daerah dan menjadi orang Melayu. Karena itu, siapa yang akan membesarkan Melayu kalau bukan kita. Mari kita saling berkolaborasi, bagaimana Melayu ini terus kita jaga, kita lestarikan dan kita besarkan di Kota Binjai, kalau tidak kita siapa lagi yang Akan Membesarkan Melayu ” tegas, Amir Hamzah.
Pakaian Melayu Setiap Kamis
Sebagai salah satu bentuk nyata dalam menjaga identitas budaya Melayu, Wali Kota Binjai menyampaikan akan menginstruksikan jajaran Pemerintah Kota Binjai untuk mengenakan pakaian Melayu setiap pekan pada hari Kamis.
Langkah tersebut diharapkan menjadi salah satu bentuk upaya melestarikan identitas Binjai sebagai wilayah yang memiliki warisan budaya Melayu. Gagasan tersebut mendapat sambutan positif dari pihak Kesultanan dan lembaga-lembaga Melayu yang hadir dalam audiensi.
Bahas Masjid Raya Binjai dan Warisan Kesultanan
Dalam pertemuan juga membahas tentang sejumlah aset dan peninggalan yang secara historis berkaitan dengan Kesultanan Negeri Langkat, termasuk Masjid Raya Binjai yang dahulu merupakan bagian dari warisan Kerajaan Melayu Langkat.
Kerapatan Adat Kesultanan Negeri Langkat menyampaikan apresiasi terhadap langkah Pemerintah Kota Binjai selama ini dalam menjaga dan mengurus keberadaan Masjid Raya Binjai.
Pihak Kesultanan menyampaikan harapan agar kenaziran Masjid Raya Binjai dapat direstrukturisasi dengan kolaborasi bersama Kerapatan Adat Kesultanan Negeri Langkat, sebagaimana masjid-masjid raya lainnya yang memiliki keterkaitan history dengan Kesultanan Negeri Langkat seperti Masjid Azizi.
Dalam penyampaiannya, pihak Kesultanan menjelaskan bahwa setelah terjadinya Revolusi Sosial, Kesultanan mengalami kevakuman yang turut berdampak terhadap pengelolaan sejumlah aset dan peninggalan Kesultanan. Salah satunya adalah Masjid Raya Binjai yang sebelumnya berada dalam pengelolaan Kesultanan.
Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Binjai menyampaikan bahwa pihaknya akan terlebih dahulu mempelajari status hukum Masjid Raya Binjai dan selanjutnya melakukan pembicaraan dengan pihak-pihak terkait. Jika untuk kebaikan, niat tulis, iklas demi memakmurkan Mesjid, maka kita harus dukung, semua ini adalah bagian amal ibadah.
Kita semua menyadari bahwa adat dan budaya adalah jati diri bangsa. Pemerintah Kota Binjai sangat menghargai peran lembaga adat dalam menjaga nilai-nilai luhur, kerukunan, dan kearifan lokal. Mudah-mudahan audiensi hari ini dapat mempererat sinergi antara Pemerintah Kota Binjai dengan Kesultanan Negeri Langkat dalam membangun daerah yang beradab, maju, dan sejahtera," pungkas Pak Wali, yang selalu di sapa Mak Amir ini.
Walikota Binjai juga mengarahkan Kepala Dinas Pariwisata Kota Binjai. yang turut hadir dalam pertemuan tersebut, agar mencatat usulan dan peluang kolaborasi berbagai kegiatan yang berkaitan dengan adat dan kebudayaan Melayu di Kota Binjai. Kepala Dinas Pariwisata menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi bersama Syarikat Masyarakat Adat Melayu (SMAM) dan Kerapatan Adat Kesultanan Negeri Langkat dalam mengadakan berbagai kegiatan Melayu di Kota Binjai.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membuka ruang yang lebih luas bagi pelestarian seni, budaya, sejarah dan adat Melayu, sekaligus memperkenalkan kembali identitas Melayu kepada generasi muda.
Ketua Umum Syarikat Masyarakat Adat Melayu, Tengku Arief Fadillah, menyatakan kesiapan organisasinya untuk ikut membangun kolaborasi bersama Pemerintah Kota Binjai dan Kerapatan Adat Kesultanan Negeri Langkat.
Menurutnya, upaya membesarkan Melayu harus dilakukan secara bersama-sama melalui program yang nyata dan berkelanjutan.
Audiensi tersebut diharapkan menjadi langkah awal bagi terbangunnya komunikasi dan kerja sama yang lebih luas antara pemerintah daerah, Kesultanan, lembaga adat dan organisasi masyarakat Melayu.
Pertemuan itu juga menegaskan satu semangat bersama: sejarah tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus dijaga; adat tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi harus dihidupkan; dan budaya Melayu harus terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ditemui terpisah, Ketum HAMBE, Ariffani,SH,MH menyampaikan rasa salut, bangga dengan respon positif Pak Walikota Binjai. Dimana beliau dengan tangan terbuka dan hangat menyabut kedatangan Kerapatan Adat Kesultanan Negeri Langkat.
"Bayangkan, pertemuan tersebut berlangsung hampir 3 jam, dalam suasana hangat, lepas dan konstruktif. Semua yang dibicangkan langsung diberikan beliau solusi dan rekomendasi nya, soal Mesjid Raya Binjai, Pemajuan Kebudayaan Melayu, sampai kebijakan beliau tentang pemakaian pakaian adat Melayu oleh OPD pada hari Kamis, ini kan luar biasa, umaro yang seperti ini, kata Arif yang juga Advokat ini.

Posting Komentar